Berita Madina


Warga Soposorik Harapkan Bantuan Pemerintah.

Warga Soposorik Harapkan Bantuan Pemerintah.

. Kotanopan, Rakyat Madani

Ingin kembali ke kampung halaman yang sudah 11 tahun ditinggalkan, warga Soposorik, Kecamatan Kotanopan mengharapkan bantuan pemerintah. Selama ini ke 34 warga Soposorik ini tinggal di Desa Simpang Tolang Julu. Kepindahan warga dari desanya dipicu karena sarana jalan yang tidak memadai ditambah bangunan sekolah yang tidak ada sama sekali.

Kepala Desa Soposorik, Paet Matondang mengatakan, “ Secara geografi, desa Soposorik berjarak sekitar 9 Km dari ibukota kecamatan, sedangkan dari Simpang Tolang Julu berjarak sekitar 4 Km. Soposorik termasuk salah satu tertua di Kotanopan, namun karena infrstruktur jalan tidak pernah dibangun, maka warganya berpindahan. Sebagian warga pindah ke desa Soposorik Panyabungan, sebagian lago ke Pastap Julu dan lainnya ke Simpang Tolang Julu dan desa-desa di sekitar Kecamatan Kotanopan”.

Paet melanjutkan, “Sekitar tahun 60 an, warga Soposorik mencapai 70 KK, namun seiring berlalu waktu, wargapun berpindahan satu demi satu. Warga yang terakhir pindah sekitar 11 tahun lalu ke Desa Simpang Tolang. Setelah itu, Desa Soposorik tidak ada penduduknya, kalaupun ada hanya beberapa orang yang datang kesana untuk melihat kebun dan sawahnya, tapi bukan untuk menetap. Kepindahan warga itu otomatis membuat desa seperti tidak bertuan, nyaris tidak berpenghuni. Kebun dan persawahan yang digarap selama ini jadi semak belukar.

Sedangkan pemicu pindahnya warga Soposorik karena jauhnya letak desa dari ibukota Kecamatan dan beratnya jalan yang yang harus ditempuh agar bisa sampai kedesa. Untuk sampai kedesa ini harus berjalan kaki sepanjang 4 Km melalui jalan tikus dengan menyeberangi 9 kali anak sungai Rura Singengu. Selain itu, tidak adanya sarana sekolah dan masjid, yang ada hanya surau. ”Bagimana kami bisa bertahan, sedangkan kalau anak –anak kami mau sekolah tidak ada tempatnya. Adapun sekolah yang terdekat di Desa Simpang Tolang yang jaraknya mencapai 4 Km, tidak mungkin anak-anak kami yag usianya sangat belia berjalan sejauh 4 km dengan melewati 9 anak sungai”, ujarnya.

”Itulah faktor utama, kenapa desa Soposorik kami tinggalkan, sebagian kami menetap di desa tetangga dengan membeli tanah dan rumah sendiri. Belakangan ini ada kesadaran warga untuk pulang kembali ke desa Soposorik, namun ada kendala, mulai dari rumah yang sudah tidak ada, sampai jalan dan sarana sekolah yang perlu dibangun. Saat ini rumah yang tersisa di Soposorik hanya tinggal 4 rumah. Jadi solusinya kita akan berupaya membangun rumah baru agar desa ini bisa kembali di tempati”, kata Paet.

“Keinginan warga untuk pindah sudah bulat, jadi kami berharap kepada pemerintah agar berkenan membantu membangun sarana jalan yang sampai saat ini masih jalan setapak sepanjang 4 Km. Kemudian, pemerintah juga harus membangun sekolah di desa ini, sebab tidak mungkin anak-anak kami tidak sekolah, mau apa jadinya mereka nanti. Kalau tingkat SMP dan SMA biarlah mereka kost nanti di ibu kota kecamatan, tapi untuk sekolah SD sangat penting sekali”, tandasnya.

Paet, juga berharap agar pemerintah membantu membuka percetaan sawah baru di daerah Soposorik. ”Terus terang saja, sawah dan kebun yang dulunya digarap sekarang sudah jadi semak belukar karena lama ditinggal. Untuk membuka lahan itu kembali butuh kerja keras, jadi kami berharap sangat bantuan dari semua pihak agar kami bisa kembali kekampung halaman kami tercinta”, ujarnya (Lokot Lubis).


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: