Berita Madina


Prosfek Pertanian di Pakantan Sangat Cerah

DSCN0743DSCN0752

PAKANTAN, TABLOID RAKYAT MADANI.

Pakantan merupakan kecamatan paling ujung di provinsi Sumatera Utara, letaknya pas diposisi perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Awalnya, Kecamatan Pakantan bagian dari wilayah Kecamatan Muara Sipongi, namun seiring terjadinya pemekaran maka Pakantan pun dimekarkan dari Kecamatan induk Muaras Sipongi.

Walaupun tergolong kecamatan baru, namun Desa Pakantan (nama sebelum dimekarkan) termasuk salah satu desa tertua di Mandailing Natal. Di daerah ini banyak peninggalan sejarah sebagai saksi bisu berjalannya suatu tatanan adat dan agama. Mulai dari bagas Godang Pakantan, Gereja tertua di Sumatera Utara, dan tambang-tambang peninggalan Belanda. Menurut Asisten Residen Mandailing-Angkola Alaxander Philippus Godon (1816-1899) di dalam buku Madina Yang Madani karangan Basral Hamidy Harahap, tahun 1846 jumlah penduduk Ulu-Pakantan berjumlah tahun 5000 dan tahun 1856 penduduk Ulu-Pakantan berjumlah 6.5444 jiwa.

Sedangkan saat ini data jumlah penduduk yang di peroleh dari kantor Camat Pakantan berdasarkan sensus terakhir yang dilakukan jumlah masyarakat Pakantan sebanyak 2507 jiwa. Sangat jauh berkurang tentunya bila di bandingkan tahun 1899. Penyebabnya antara lain banyaknya yang hijrah dari Pakantan ke desa-desa sekitarnya, kemudian banyaknya yang menetap di perantauan.

Mata pencaharian penduduk Pakantan 90 persen adalah petani, sedangkan yang 10 persen pedagang, pegawai dan buruh atau yang lainnnya. Sedangkan hasil bumi paling utama adalah padi dan tanaman-tanaman muda lainnya. Tidak mengherankan, kecamatan Pakantan di kelilingi hamparan sawah yang luas, namun sayangnya warga tidak bisa lagi memperluas lahannya, baik ia lahan persawahan atau perkebunan di sebabkan hutan lindung yang terdapat di sekitar Pakantan.

Selain padi, mulai tahun 1878 sampai dekade sembilan puluhan daerah Pakantan terkenal penghasil kopi Robustanya. kepopuleran kopi Robusta Pakantan ini bukan saja di Indonesoa, tapi juga di Manca Negara. Namun sangat disayangkan, di daerahnya Pakantan kopi ini mulai langka di sebabkan masyarakatnya enggan menanam kopi karena harganya yang sangat murah. Padahal, mulai sekitar tahun 8000 an, Pakantan terkenal sebagai penghasil kopi ternikmat dan terbaik di dunia.

Di usianya yang empat tahun, Kecamatan Pakantan di bawah pimpinan Drs. Parlin Lubis, AP, terus berbenah diri agar sejajar dengan kecamatann lainnya yang ada di Madina. Walaupun usia Camat nya masih tergolong muda yaitu sekitar 33 tahun, namun itu bukan halangan baginya untuk berupaya membangun daerah Pakantan, tentunya harus bekerja sama dengan Pemkab Madina dan orang-orang Pakantan yang tinggal di perantauan maupun yang tinggal di Pakantan sendiri.

Seabrek pengalaman yang telah di lalui Camat Pakantan dalam dunia birokrasi menjadi modal utama baginya dalam memimpin Pakantan. Sebelum beliau bertugas di Pakantan, Parlin Lubis sudah melanglang buana bertugas di daerah lain, mulai bertugas di kantor Camat Batang Asai, Kabupaten Sorolangun, provinsi Jambi. Kemudian di kantor Camat Limun, Kabupaten Sorolangun, Bapeda kota Depok-Jawa Barat, PMK Kota Depok, Dinas Kependudukan Catatan Sipil Kota Depok, Sekretariat KPU Kota Depok, Tata Pemerintahan Kota Depok, dan tahun 2008 hijrah ke Madina dan bertugas di BKD Mandailing Natal, tidak lama berselang di angkat menjadi Camat Pakantan.

Menurut Parlin Lubis, dirinya bertugas di Pakantan, mulai tanggal 31 Maret 2009. Sebagai Camat, tugas utamanya adalah sebagai perpanjang tangan pemerintah. Jadi apa yang di arahkan Bupati itu yang kita kerjakan, selain itu juga kita tetap berpedoman kepada program Rencana Kerja Kecamatan yang sudah di rumuskan Camat terdahulu di awal tahun 2009 lalu.

Menurutnya, saat ini yang sangat cocok di kembangkan di Pakantan adalah pertanian dan peternakan. Selama ini kita ketahui Pakantan merupakan swasembada beras, jadi sekarang bagaimana caranya penghasilan warga agar lebih meningkat. Memang untuk perluasan lahan pertanian dan perkebunan masyarakat terkendala hutan lindung ,jadi yang menjadi pemikiran bagi kita saat ini bagaimana caranya agar produksi pertanian di Pakantan meningkat tapi dengan luas lahan yang tetap. Saya pikir caranya yang tepat dengan meningkatkan kualitas bercocok tanam, mulai dari sistem pengolahan tanah yang modern, bibit unggul, sistem cara bertani yang harus di ubah, bukan lagi bersifat tradisional seperti selama ini tapi sudah melangkah kearah yang lebih modern.

Untuk mengubah ini memang butuhkan waktu, kita perlu kerja sama dengan aparat terkait, misalnya dengan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan. Sebab, kalau pola bertani masyarakat selama ini tidak di rubah maka dikhawatirkan nanti di tahun-tahun berikutnya hasil pertaniannya akan menurun, jumlah penduduk terus bertambah sedangkan luas lahan tetap. Jadi sekarang kita sedang mengupayakan bagaimana caranya agar lahan yang ada kita maksimalkan hasilnya.

Begitu juga dengan peternakan dan bercocok tanam dengan tanaman muda. Alam Pakantan ini sangat cocok dengan perternakan dan tanaman muda. Kandungan tanah Pakantan beda dengan daerah lain, rasa sayur yang di tanam di Pakantan juga beda dengan yang di tanam di daerah lain. Begitu juga dengan rumput-rumput sebagai makanan ternak juga beda dengan daerah lain, kalau di sini ternah-ternak penduduk gemuk-gemuk”, ujarnya.

Mengenai infrastruktur, seperti kecamatan yang baru mekar lainnya, bangunan-bangunan di Pakantan memang masih minim. Paling yang ada kantor Camat, Puskesmas dan kantor KUPT itupun baru selesai dan baru di tempati. Sedangkan bangunan Polsek belum ada sama sekali, jadi kalau perlu pengaman terpaksa turun dari Polsek Muara Sipongi. Begitu juga dengan sarana telekomunikasi di daerah ini belum ada sama sekali. Masyarakat sangat mengharapkan sarana telekomunikasi seperti tower-tower di bangun di daerah ini.

Ketiadaan sarana memang harus kita maklumi, karena masih baru. Tapi kita yakin dan percaya kepada Pemkab Madina 5-10 tahun kedepan akan memprioritaskan daerah ini. Jadi saat ini kita berbuat sesuai dengan kondisi yang ada, apa yang bisa kita lakukan, ya kita lakukan. Selain berharap kepada Pemkab Madina, tentunya kita juga berharap kepada perantau-perantau asal Pakantan yang berhasil di luar daerah agar segera sama-sama membangun Pakantan. Sebab, kalau dana Pemkab saja di harapkan sebenarnya tidak mencukupi, karena masih banyak lagi daerah-daerah lain yang lebih memerlukan dari daerah Pakantan”, tandasnya Parlin Lubis. (Lokot Lubis).

BIODATA CAMAT PAKANTAN.

Nama : Drs. Parlin Lubis, AP

Tempat Tgl. Lahir : Pasaman Ampalu, 06-09-1975.

Alamat : Pakantan

Pendidikan : – SD-SMP-SMA Pasaman

STPDN tahun 1998

– S1- IIP Jakarta (tahun 2003)

Pernah bertugas

1. Kantor Camat Batang Asai-Kab. Soro Langun, Bangko-Jambi

2. Kantor Camat Limun, Kab. Soro Langun

3. Kantor Bapeda Kota Depok-Jawa Barat

4. Kantor PMK Kota Depok

5. Dinas Kependudukan Catatan Sipil Kota Depok

6. Sekretariat KPU Kota Depok

7. Tata Pemerintahan Kota Depok

8. BKD Mandailing Natal

9. Camat Pakantan-Sekarang.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: