Berita Madina


Profil Tokoh Madina

Abdul Haris Nasution (1918-2000)


Gaya hidup bersahaja dibawa Jenderal Besar A.H. Nasution sampai akhir hayatnya, 6 September 2000. Ia tak mewariskan kekayaan materi pada keluarganya, kecuali kekayaan pengalaman perjuangan dan idealisme. Rumahnya di Jalan Teuku Umar, Jakarta, tetap tampak kusam, tak pernah direnovasi. Namun Tuhan memberkatinya umur panjang, 82 tahun. Pria Tapanuli ini lebih menjadi seorang jenderal idealis yang taat beribadat. Ia tak pernah tergiur terjun ke bisnis yang bisa memberinya kekayaan materi. Kalau ada jenderal yang mengalami kesulitan air bersih sehari-hari di rumahnya, Pak Nas orangnya. Tangan-tangan terselubung memutus aliran air PAM ke rumahnya, tak lama setelah Pak Nas pensiun dari militer. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari, keluarga Pak Nas terpaksa membuat sumur di belakang rumah. Sumur itu masih ada sampai sekarang. Memang tragis. Pak Nas pernah bertahun-tahun dikucilkan dan dianggap sebagai musuh politik pemerintah Orba. Padahal Pak Nas sendiri menjadi tonggak lahirnya Orba. Ia sendiri hampir jadi korban pasukan pemberontak yang dipimpin Kolonel Latief. Pak Nas-lah yang memimpin sidang istimewa MPRS yang memberhentikan Bung Karno dari jabatan presiden, tahun 1967. Pak Nas, di usia tuanya, dua kali meneteskan air mata. Pertama, ketika melepas jenazah tujuh Pahlawan Revolusi awal Oktober 1965. Kedua, ketika menerima pengurus pimpinan KNPI yang datang ke rumahnya berkenaan dengan penulisan buku, Bunga Rampai TNI, Antara Hujatan dan Harapan. Apakah yang membuatnya meneteskan air mata? Sebagai penggagas Dwi Fungsi ABRI, Pak Nas ikut merasa bersalah, konsepnya dihujat karena peran ganda militer selama Orba yang sangat represif dan eksesif. Peran tentara menyimpang dari konsep dasar, lebih menjadi pembela penguasa ketimbang rakyat. Pak Nas memang salah seorang penandatangan Petisi 50, musuh nomor wahid penguasa Orba. Namun sebagai penebus dosa, Presiden Soeharto, selain untuk dirinya sendiri, memberi gelar Jenderal Besar kepada Pak Nas menjelang akhir hayatnya. Meski pernah “dimusuhi” penguasa Orba, Pak Nas tidak menyangkal peran Pak Harto memimpin pasukan Wehrkreise melancarkan Serangan Umum ke Yogyakarta, 1 Maret 1949. Pak Nas dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya melawan kolonialisme Belanda. Tentang berbagai gagasan dan konsep perang gerilyanya, Pak Nas menulis sebuah buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, jadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). Dan, Pak Nas tak pernah mengelak sebagai konseptor Dwi Fungsi ABRI yang dikutuk di era reformasi. Soalnya, praktik Dwi Fungsi ABRI menyimpang jauh dari konsep dasar. Jenderal Besar Nasution menghembuskan nafas terakhir di RS Gatot Subroto, pukul 07.30 WIB (9/9-2000), pada bulan yang sama ia masuk daftar PKI untuk dibunuh. Ia nyaris tewas bersama mendiang putrinya, Ade Irma, ketika pemberontakan PKI (G-30-S) meletus kembali tahun 1965. Tahun 1948, Pak Nas memimpin pasukan Siliwangi yang menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Usai tugas memimpin MPRS tahun 1972, jenderal besar yang pernah 13 tahun duduk di posisi kunci TNI ini, tersisih dari panggung kekuasaan. Ia lalu menyibukkan diri menulis memoar. Sampai pertengahan 1986, lima dari tujuh jilid memoar perjuangan Pak Nas telah beredar. Kelima memoarnya, Kenangan Masa Muda, Kenangan Masa Gerilya, Memenuhi Panggilan Tugas, Masa Pancaroba, dan Masa Orla. Dua lagi memoarya, Masa Kebangkitan Orba dan Masa Purnawirawan, sedang dalam persiapan. Masih ada beberapa bukunya yang terbit sebelumnya, seperti Pokok-Pokok Gerilya, TNI (dua jilid), dan Sekitar Perang Kemerdekaan (11 jilid). Ia dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadat. Ayahnya anggota pergerakan Sarekat Islam di kampung halaman mereka di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Pak Nas senang membaca cerita sejarah. Anak kedua dari tujuh bersaudara ini melahap buku-buku sejarah, dari Nabi Muhammad SAW sampai perang kemerdekaan Belanda dan Prancis. Selepas AMS-B (SMA Paspal) 1938, Pak Nas sempat menjadi guru di Bengkulu dan Palembang. Tetapi kemudian ia tertarik masuk Akademi Militer, terhenti karena invasi Jepang, 1942. Sebagai taruna, ia menarik pelajaran berharga dari kekalahan Tentara Kerajaan Belanda yang cukup memalukan. Di situlah muncul keyakinannya bahwa tentara yang tidak mendapat dukungan rakyat pasti kalah. Dalam Revolusi Kemerdekaan I (1946-1948), ketika memimpin Divisi Siliwangi, Pak Nas menarik pelajaran kedua. Rakyat mendukung TNI. Dari sini lahir gagasannya tentang perang gerilya sebagai bentuk perang rakyat. Mtode perang ini dengan leluasa dikembangkannya setelah Pak Nas menjadi Panglima Komando Jawa dalam masa Revolusi Kemerdekaan II (948-1949). Pak Nas muda jatuh cinta pada Johana Sunarti, putri kedua R.P. Gondokusumo, aktivis Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak muda, Pak Nas gemar bermain tenis. Pasangan itu berkenalan dan jatuh cinta di lapangan tenis (Bandung) sebelum menjalin ikatan pernikahan. Pasangan ini dikaruniai dua putri (seorang terbunuh). Pengagum Bung Karno di masa muda, setelah masuk di jajaran TNI, Pak Nas acapkali akur dan tidak akur dengan presiden pertama itu. Pak Nas menganggap Bung Karno campur tangan dan memihak ketika terjadi pergolakan di internal Angkatan Darat tahun 1952. Ia berada di balik ”Peristiwa 17 Oktober”, yang menuntut pembubaran DPRS dan pembentukan DPR baru. Bung Karno memberhentikannya sebagai KSAD. Bung Karno akur lagi dengan Pak Nas, lantas mengangkatnya kembali sebagai KSAD tahun 1955. Ia diangkat setelah meletusnya pemberontakan PRRI/Permesta. Pak Nas dipercaya Bung Karno sebagai co-formatur pembentukan Kabinet Karya dan Kabinet Kerja. Keduanya tidak akur lagi usai pembebasan Irian Barat lantaran sikap politik Bung Karno yang memberi angin kepada PKI. Namun, dalam situasi seperti itu Pak Nas tetap berusaha jujur kepada sejarah dan hati nuraninya. Bung Karno tetap diakuinya sebagai pemimpin besar. Suatu hari tahun 1960, Pak Nas menjawab pertanyaan seorang wartawan Amerika, ”Bung Karno sudah dalam penjara untuk kemerdekaan Indonesia, sebelum saya faham perjuangan kemerdekaan.”

H. ADAM MALIK


Meskipun dua catatan riwayat hidup Adam Malik (1) menyebut bahawa Adam Malik dilahirkan di Pematang Siantar, Sumatra Utara pada tahun 1917, namun begitu orang tua-tua di Kampung Batu Sembilan, Chemor, Perak menganggap Chemor sebagai tempat kelahirannya. Orang tua-tua di kampung itu memberitahu MANDAILING bahawa Adam Malik dilahirkan dan dibesarkan di Chemor sebelum ibunya Siti Salamah membawanya pulang ke Sumatra. Sebaik-baik pengesahan mengenai cerita ini datang daripada sepupu Adam Malik sendiri, Haji Hasan bin Mohd Tasah (Batubara), 65, Imam Masjid Chemor: ìAdam Malik diberanakkan di Chemor. Besar-besarnya Adam Malik pun di Chemorî. Katanya, bapa Adam Malik, iaitu Abdul Malik, telah datang ke Chemor semasa teruna lagi. Abdul Malik yang bermarga Batubara, berasal dari Huta Pungkut Julu di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Huta Pungkut, sebelum itu dipanggil Huta Gordang, dibuka oleh moyangnya Si Juangga gelar Ja Godang. Sesetengah keturunan orang Mandailing di Chemor juga berasal dari Huta Pungkut. Sesudah bapa Abdul Malik, iaitu Ampulagang bin Ja Balom meninggal dunia, dia dibawa ke Kampung Tembok Baru di Chemor oleh bapa saudaranya, Haji Mohd Arshad bin Ja Balom. Jelas Imam Hasan, ìMaka ayah Adam Malik menjadi anak angkat nenek saya, Haji Mohd. Arshad. Adam Malik memanggilnya ëPak Uchuí atau ëUdaí mengikut panggilan Mandailing. Adam Malik dan ayah saya jadi adik-beradikî. Bachtiar Djamily dalam biografinya mengenai Adam Malik, menulis, ìTahun 1911, Abdul Malik memetik sekuntum bunga yang harum semerbak wangi dari Chemor, Perak, Semenanjung Tanah Melayu. Itulah gadis remaja bernama Siti Salamahî. Daripada perkahwinan ini, pasangan itu dikurniakan sepuluh cahaya mata. Adam Malik adalah anak yang ketiga. Abdul Malik, seorang pedagang kelontong dan kain, kerap berulang-alik di antara Chemor dan Sumatra. ìSupaya Abdul Malik ini tetap tinggal di Chemor, nenek saya kahwinkan dia dengan Siti Salamah binti Deto, yang pada masa itu tinggal di Kampung Dusun Gelap. Di Kampung Dusun Gelap inilah Adam Malik dilahirkan,î kata Imam Hasan. (2) Kampung Dusun Gelap di Chemor itu seluas kira-kira 40 ekar, ditanam dengan getah dan buah-buahan, dan dianggarkannya mempunyai 30 buah rumah. Kampung itu sudah tidak ada lagi kerana penduduknya berpindah ke Kampung Batu Sembilan dan Kampung Tembok Baru supaya mereka tinggal lebih dekat dengan jalan besar ke Ipoh. Siti Salamah dan anak-anaknya pula berpindah ke rumah saudara sekandungnya, Hajjah Halimah binti Deto, yang lebih dikenali sebagai Hajjah Saíebah, dan suaminya Haji Ahmad Nawas Haji Mohd Sidek, ëorang kayaí di Kampung Batu Sembilan. Rumah mereka itu terletak berdekatan dengan jalan besar Ipoh-Chemor. Jadi, Adam Malik dan adik-beradiknya membesar di Kampung Batu Sembilan. ìAdam Malik tidak sempat masuk sekolah di Chemor. Umurnya tujuh lapan tahun, dia dibawa balik ke Sumatra oleh orang tuanya,î kata Imam Hasan. Pada pertengahan tahun 1963, Indonesia atas hasutan Parti Komunis Indonesia (PKI) yang sangat-sangat memusuhi Adam Malik, melancarkan konfrantasi terhadap Malaysia, dan secara tidak langsung terhadap Adam Malik sendiri. ìAgaknya orang-orang PKI mengetahui benar sikap politik Adam Malik. Merekapun pasti tahu betul hubungan pribadi dan kekeluargaan Adam Malik dengan saudara-saudaranya di Malaysia. ìDi zaman berlangsungnya konfrontasi timbal-balik antara Indonesia dan Malaysia, yaitu sekitar tahun 1963-65, tidak diragukan lagi bahwa di antara sekian banyak pemimpin dan rakyat Indonesia yang resah dan gelisah, termasuklah Adam Malik. ìSecara pribadi dan selaku manusia biasa, Adam Malik mempunyai banyak saudara, sahabat dan kenalan di Malaysia. Banyak latar-belakang kehidupan Adam Malik yang menjalinkannya dengan Malaysia,î Bachtiar Djamily mendedahkan. Maka tidaklah menghairankan kalau Adam Malik memainkan peranan yang besar untuk memadamkan konfrantasi Indonesia terhadap Malaysia, tempat tumpah darah ibu dan dirinya sendiri. ìHanya sa-telah Adam Malik ëberkonfrantasií dengan Sukarno baru-lah Sukarno mendiamkan diri dan tidak lagi menyebut2 soal konfrantasi yang di-benchi ituî, kata Abdul Rahman Rahim, seorang lagi penulis. (3) Malah Adam Malik sendiri menyatakan bahawa ìtugas saya sebagai Menteri Luar Negeri adalah … mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Malaysiaî. (4) Atas sifatnya sebagai Menteri Luar Indonesia, Adam Malik menandatangani Persetujuan Jakarta dengan Tun Abdul Razak, Timbalan Perdana Menteri Malaysia pada 11 Ogos 1966 di Jakarta sebagai menandakan tamatnya konfrantasi. Keesokan harinya, Adam Malik mengginjak kakinya di bumi Malaysia. Ketibaan anak watan Malaysia itu di lapangan terbang Subang, disambut meriah. Mulai hari itu, pada setiap kesempatan yang terbuka, Adam Malik mengunjungi kampung halamannya di Chemor, Perak. Di situ, Adam Malik bertanggak di rumah bapa saudaranya, Haji Mohd. Tasah bin Haji Mohd. Arshad. Pada masa itu, Haji Mohd. Tasah adalah Imam Masjid Chemor. Seorang lagi saudara-mara Adam Malik di Chemor ialah Abdul Rahim, iaitu bapa Abdul Rahman Rahim yang disifatkan oleh Bachtiar Djamily sebagai ìwartawan dan ahli politik yang terkenal ituî. Nama asal Abdul Rahman Rahim ialah Kamaludin Nasution. Dia menukar namanya sesudah melarikan diri ke Malaya pada 1932 daripada buruan penjajah Belanda. kerana kegiatan politiknya. Dia menjadi wartawan Utusan Melayu dari 1961 ke 1971. Walaupun kedatangan-kedatangan Adam Malik ke Kampung Batu Sembilan itu bersifat peribadi tetapi oleh kerana beliau seorang VIP, Adam Malik senantiasa diikuti oleh pegawai-pegawai Special Branch (cawangan khas polis Malaysia) yang berpakaian pereman. Anak saudara Adam Malik, Zainal Adnan Idris (Lubis) adalah juga seorang pegawai Special Branch berpangkat Inspektor. Walaupun dia tidak ditugaskan mengiringi Adam Malik, dia telah mengambil cuti untuk menyambut kedatangan Adam Malik ke Kampung Batu Sembilan. Kehadiran dan ëkeakrabaní Adnan dengan Menteri Luar Indonesia itu menarik perhatian pegawai-pegawai Special Branch yang mengekori Adam Malik. Sekembalinya bertugas, Adnan disoal-siasat oleh pegawai tertinggi kepolisan mengenai hubungannya dengan Adam Malik. Adnan memberitahu bahawa Adam Malik adalah bapa saudaranya! Berikutan itu, Adnan telah ditukarkan dari Special Branch ke cawangan pencegah maksiat. (5) Penulis masih ingat kunjungan Adam Malik ke Kampung Batu Sembilan pada awal 1970an. Penulis, pada masa itu berumur belasan tahun, turut meraikan kedatangan Adam Malik ke kampung itu dan bersalaman dengannya. Sebelum Adam Malik menikmati juadah yang dihidangkan, seorang ëperasaí menjamah makanan itu untuk memastikan makanan itu tidak beracun. Pada salah satu kunjungan ke kampung itu, Haji Kamaruddin Haji Abdullah (Lubis), 81, bekas ahli jawatankuasa IMAN Negeri Perak, menemankan Adam Malik ke Papan, Perak, supaya Menteri Luar Indonesia itu dapat menyampaikan sendiri salam ibunya kepada Raja Norain Sutan Abidin Lubis, yang dipanggil Sangkot. Raja Norain adalah isteri Yahya Nasution, panggilan Harun, pejuang nasional Indonesia yang dibuang ke Digol Irian Barat oleh penjajah Belanda kerana kegiatan politiknya. Haji Kamuruddin mengingati Adam Malik sebagai seorang yang ìpandai, bijak, tebal imannya, kuat beragama. Dia orang alim betul-betulî. Mengenangkan bahawa Adam Malik adalah anak Chemor yang berjasa besar, MANDAILING mencadangkan supaya Kampung Batu Sembilan dinamakan Desa Adam Malik.

WILLEM ISKANDER (1840-1876)


Tokoh ini terkenal di Sumatera Utara, khususnya Tapanuli, sebagai guru dan penyair. Kumpulan puisi dan cerita pendeknya berjudul Si Bulus-Bulus Si Rumbuk Rumbuk pertama kali diterbitkan oleh Landsrukkerij di Batavia pada tahun 1872. Buku ini menjadi buku sumber inspirasi cita-cita kemajuan, bahkan menjadi rujukan nasihat orangtua dan ungkapan tradisional di daerah itu. Sejak tahun 1872 kumpulan puisi dan cerita pendek berbahasa Mandailing ini merupakan buku bacaan utama di Sekolah Rendah, HIS, Sekolah Rakyat dan sekarang Sekolah Dasar, khususnya di Tapanuli Selatan. Sekalipun Willem Iskander merupakan tokoh pembaharu yang sangat besar pengaruhnya dalam membuka cakrawala berfikir untuk meraih kemajuan, namun informasi tentang ditinya terlalu sedikit. Penulis sebagai pengagum Willem Iskander sejak duduk di bangku Sekolah Rakyat, sangat berminat untuk membuka tabir kehidupan tokoh budayawan ini. Cita-cita itu kemudian terkabul, ketika pada tahun 1975, penulis berkesempatan mengikuti orientasi pekerjaan selama tiga bulan di kantor Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Leiden. Di sela-sela kesibukan sehari-hari, penelitian Willem Iskander dimulai dari penemuan Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk edisi pertama dalam koleksi KITLV. Penelusuran selanjutnya diteruskan ke berbagai pusat arsip di negeri Belanda pada tahun 1981 dan 1985 melalui penelitian aarsip yang rumit, akhirnya dikethaui alamat-alamat yang pernah ditinggali oleh Willem Iskander (5 Alamat) dan Maria Christina Jacoba Winter-Iskander (17 Alamat) di Amsterdam. Semua alamat itu penulis temukan, termasuk makam mereka yang telah lama dicari akhirnya ditemukan pada tahun 1985. Hasil pendahuluan penelititan Willem Iskander telah penulis umumkan dalam acara peringatan tepat 100 tahun meninggalnya Willem Iskander pada tanggal 8 Mei 1976 di Geliga Restaurant, Jakarta Pusat. Pada kesempatan itu Mokhtar Lubis menyampaikan makalah tentang peta politik dan sosial budaya Mandailing pertengahan abad 19, sedangkan Adam Malik dalam sambutan tertulis menyatakan bahwa Willem Iskander bukan hanya sekedar tokoh daerah, tetapi benar-benar tokoh berkaliber nasional. Untuk menyemarakkan acara itu penulis memamerkan sejumlah dokumen tentang Willem Iskander yang ditemukan di Negeri Belanda. Pada tahun-tahun berikutnya hasil-hasil penelitian Willem Iskander penulis umumkan melalui tulisan-tulisan yang dimuat di berbagai media massa yang terbit di Jakarta dan Medan, dan dalam berbagai kesempatan ceramah tahunan tentang Willem Iskander. Sejak itu, nama tokoh modernisator ini perlahan terangkat ke permukaan pers nasional. Dari penelitian yang penulis lakukan, banyak terungkap hal-hal yang menarik tentang perjuangan Willem Iskander. Salah satu manfaat yang besar dari penelitian ini ialah terbukanya cakrawala yang lebih luas dari buku Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk. Sajak-sajaknya lebih mudah didalami maknanya yang hakiki dengan bekal peangetahuan biografi pengarangnya dan situasi sosial budaya yang melatar belakangi lahirnya sajak-sajak itu. Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk bukan hanya sekedar judul buku. Tetapi ungkapan ini merupakan inti, perasan dari seluruh prosa dan puisi Willem Iskander yang terkandung di dalam buku ini. Apabila didalami lebih jauh lagi, ungkapan ini adalah suatu hasil kajian yang diangkat dari unsur gama dan kebudayaan. Perpaduan ini diramu sedemikian rupa sehingga terpadu menjadi ungkapan filosofis. Suatu ungkapan yang merupakan falsafah hidup yang bernafaskan agama, kebudayaan dan cita-cita kemajuan. Sekalipun ide pembaharuan Willem Iskander dikumandangkannya satu abad yang lalu, tetapi satupun dari semua ide pambaharuan itu belum ada yang usang. Ini adalah kekuatan karya Willem Iskander. Ia terlempar jauh ke masa depan zamannya. Kekuatan ini pula yang menempatkan dirinya sebagai salah seorang penerima Hadiah Seni pada 1978, setelah 102 tahun dia meninggal dunia. Naskah buku itu sendiri telah sampai di Batavia tahun 1870 untuk diteliti sebelum diterbitkan. Setelah melalui pemeriksaan antara lain komentar dari Dr. Neubronner van der Tuuk, ahli bahasa Batak yang terkenal itu, maka buku ini diterbitkan oleh pemerintah ketika itu. Edisi pertama ini dicetak oleh Landsdrukkerij (Pencetakan Negara) pada tahun 1872. Sebelum tahun 1871 Willem Iskander sudah yakin akan berangkat lagi ke Negeri Belanda untuk kedua kalinya. Ini terungkap dalam dua bait terakhir sajak Mandailing. Rencana keberangkatan itu sendiri sudah dirintisnya sejak tahun 1866 ketika Inspektur Jenderal Pendidikan Bumiputera, Mr. J.A. van der Chijs berkunjung ke Kweekschool Tanobato. Pada kesempatan itu Willem Iskander banyak mengajukan usul untuk meningkatkan mutu sekolah-sekolah guru bumiputera di Indonesia (Hindia Belanda ketika itu). Usul-usul itu termasuk peningkatan mutu guru-guru pada sekolah guru bumiputera dengan jalan memberikan beasiswa kepada guru-guru muda. Beasiswa itu dipersiapkan sedemikian rupa dan calon-calonya diseleksi secara nasional. Pada tahun 1869 telah direncanakan suatu tugas bagi Willem Iskander untuk membawa delapan orang guru muda masing-masing dua orang dari Mandailing, Sunda, Jawa dan Minahasa. Pada tahun 1873 sudah diketahui calon-calon penerima beasiswa itu. Tetapi ternyata bukan delapan orang. Yang berhasil memperoleh beasiswa itu hanya tiga orang yakni Banas Lubis dari Mandailing (Kweekschool), Ardi Sasmita dari Sunda (Kweekschool) dan Raden Mas Surono dari Jawa (Kweekschool Tanobato Surakarta). Willem Iskandar dengan tiga guru muda itu meninggalkan Tanjung Priok pada bulan April 1874 dengan kapal Prins van Oranje menuju Amsterdam via Terusan Suez. Bagi Willem Iskander sendiri ini merupakan tugas penting, karena selain ia menjadi pembimbing mereka (ini disebutkan dalam suatu beslit khusus), ia juga akan memperoleh kesempatan untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan, khususnya bahasa, Kesusastraan dan musik. Ini merupakan kesempatan pula baginya untuk melanjutkan studinya yang terbengkalai satu tahun pada tahun 1861/1862. Lanjutan studi itu tidak dapat diselesaikannya pada tahun 1861/1862 karena ia terpaksa pulang ke tanah air mengingat kesehatannya yang semakin memburuk. Jadi, tidak benar apabila ada keterangan yang selama ini kita dengar bahwa Willem Iskander dibuang ke Negeri Belanda. Yang benar adalah bahwa perjalanan ke Negeri belanda itu adalah rencana matang yang telah lama dipersiapkan oleh Willem Iskander. Ia bukan saja menghubungi pejabat-pejabat resmi di Indonesia, tetapi juga beberapa orang yang berpengaruh di Negeri Belanda untuk melicinkan jalan pelaksanaan rencana itu. Antara lain dengan minta kesediaan mereka memberikan rekomendasi kepada pejabat-pejabat yang menentukan di Hindia Belanda ketika itu. Orang yang dihubungi antara lain D. Hekkar Jr., bekas gurunya di Oefenschool di Amsterdam. Sedemikian rupa terperinci rencana dan tindak lanjutnya. Kweekschool Tanobato sejak tahun 1872 sudah dipersiapkan untuk pindah ke Padangsidempuan untuk dibangun menjadi suatu Pusat Studi Batak, yang akan dipimpin langsung oleh Willem Iskander setelah kembali dari Negeri Belanda pada tahun 1876. Tetapi rencana pembaharuan itu gagal karena bukan saja Banas Lubis, Ardi Sasmita dan Raden Mas Surono yang meninggal pada masa studi itu, tetapi juga tokoh kita Willem Iskander, meninggal dunia pada tanggal 8 Mei 1876 di Amsterdam dalam usia 36 tahun. Setelah 10 tahun menelusuri jejak Willem Iskander, akhirnya dalam penelitian lapangan di Belanda pada bulan Juli 1985, penulis berhasil menemukan lokasi makam Willem Iskander di Zorgvlied, Amsterdijk, dekat sungai Amstel di Amsterdam. Makamnya sendiri telah digusur pada tahun 1947 karena tidak ada lagi yang mengontraknya. Maria Christina Jacoba Winter-Iskander sendiri telah meninggal pada tanggal 25 April 1920 di Amsterdam dalam usia 69 tahun. Jasadnya dimakamkan di Nieuwe Oosterbegraafplaats.


Adnan Buyung Nasution

Adnan Buyung Nasution atau Adnan Bahrum Nasution (lahir di Jakarta, 20 Juli 1934) adalah salah seorang pengacara senior di Indonesia. Selain itu beliau juga merupakan aktivis sejak masa mudanya sampai sekarang. Salah satu organisasi yang didirikannya adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Adnan Buyung Nasution lahir dari keturunan “Nasution 28” Nasution pejuang di Mandailing yang berani melawan Belanda. Masih umur 22 tahun, sebagai jaksa ia sudah jadi anggota Tim Pemberantas Korupsi. Sejak diberlakukan dekrit 5 Juli 1956, seiring rusaknya pemerintahan Soekarno, aparat negara termasuk kejaksaan dijadikan alat revolusi yang bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat……Buyung tak Cuma diam selama dirumahkan, malah mendirikan Gerakan Ampera Anti PKI dan berguru pada politikus senior. Ketika meletus G-30S/PKI ia tampil digelanggang politik memimpin Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia menyuarakan Tri Tuntutan Rakyat. Orde Lama tumbang, Orde Baru bangkit…Tak hanya sampai disitu, Buyung mempimpin delegasi untuk mengajak Soeharto bicara. Sekitar 20 menit Buyung berapi-api dan tanpa tedeng aling-aling memaparkan kebobrokan yang terjadi lebih awal pemerintahan Orde Baru, yang berakhir dengan Soeharto meninggalkan ruangan dan tak pernah kembali. Seluruh media cetak heboh memberitakan, “Buyung memberi peringatan keras kepada Soeharto”.(Sumber: Sinopsis Buku DIRUMAHKAN SOEKARNO DIPECAT SUHARTO Pengarang: Adnan Buyung Nasution, Penerbit: Aksara Karunia, 2004).

Pekerjaan

  • 1981-1983: Ketua Umum YLBHI
  • 1977: Ketua DPP Peradin
  • 1970-1986: Direktur/Ketua Dewan Pengurus LBH
  • 1969-sekarang: Advokat/Konsultan Hukum Adnan Buyung & Associates
  • 1966-1968: Anggota DPRS/MPRS
  • 1957-1968: Jaksa/Kepala Humas Kejaksaan Agung


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: