Berita Madina


Madina Menuju Bebas Malaria.

DSCN0540

Panyabungan, Rakyat madani.

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat dunia. Setiap tahun, lebih dari 500 juta manusia terinfeksi malaria dan lebih dari 1 juta di antaranya meninggal dunia. Kasus terbanyak berada di Negara Afrika, Asia, Amerika Latin, Timur Tengah dan Eropa.

Sedangkan di Indonesia, terdapat 424 Kabupaten Endemis malaria dari 576 Kabupaten yang ada. Diperkirakan 45 % penduduk Indonesia beresiko tertular malaria. Malaria juga merupakan salah satu penyakit yang mempengaruhi tingginya angka kematian bayi, anak balita, wanita hamil dan menurunkan produktivitas SDM. Kabupaten Mandailing Natal salah satu Kabupaten di Sumatera Utara  yang termasuk daerah endemis.

Demikian cuplikan buku yang luncurkan Kantor Pusat Malaria Kabupten Mandailing Natal  yang berjudul ”Manuju Madina Bebas Malaria”. Menurut Kakan Pusat Penanggulangan Malaria Kabupaten Mandailing Natal Arifin Fauzi Lubis, S. Si, Apt, M.M. mengatakan, ”Buku ini sengaja diterbitan dalam rangka peringatan Hari Malaria Sedunia ke-2 tahu 2009 dengan thema” Menuju Indonesia Bebas Malaria”.

Selain itu, buku ini juga diterbitkan untuk menjadi rujukan kepada seluruh instansi, pemerintah terkait, tokoh agama/masyarkat, maupun dunia usaha untuk meningkatkan kepeduliannya dan berperan aktif dalam penanggungalangan malaria di Kabupaten Mandailing Natal sehingga eliminasi malaria di bumi Gordang Sembilan dapat tercapai tahun 2020”, ujar Arifin.

Dalam buku ini dijelaskan, umumnya lokasi endemis malaria adalah desa-desa yang terpencil dengan kondisi lingkungan yang tidak baik, sarana transportasi dan komunikasi yang sulit, akses pelayanan kesehatan yang kurang, tingkat pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat yang rendah serta prilaku hidup sehat yang kurang baik.

Khusus Mandailing Natal, ada 3 kecamatan yang merupakan daerah endemis yang tinggi, yaitu kecamatan Panyabungan, Panyabungan Barat dan Siabu, sedangkan kecamatan lainnya  merupakan  daerah endemis sedang dan rendah.  Jadi ini merupakan tantangan bagi seluruh elemen masyarakat, bukan hanya tantangan bagi kantor Pusat Penanggulangan Malaria Madina saja, kata Arifin.

Penanggulangan malaria sangat memerlukan kepedulian dan dukungan semua pihak, baik ia pemerintah dan masyarakat. Dari berbagai pengalaman, dalam penanggulangan malaria pada masa lalu telah terbukti tanpa keterlibatan masyarakat, baik ia dukungan dari eksekutif, legislatif, organisasi sosial, keagamaan dan pihak swasta, hasilnya tidak akan oftimal.

Terkait dengan pemberantasan malaria, Pemkab Madina melalui Kantor Pusat Penanggulangan Malaria Madina telah melakukan berbagai hal, yaitu mulai dari penemuan aktif penderita, penegakan diagnosa malaria melalui pemeriksaan mikroskopis, penatalaksanaan kasus dan pengobatan, pengobatan menggunakan Artemisinin Combination Therapy (ACT), pengobatan malaria pada ibu hamil, penyemprotan rumah, pembentukan Pos Malaria di desa (Posmaldes), penyediaan sarana (mikroskop, RDT) bahan laboratorium dan obat-obatan, pembagian kelambu anti nyamuk (LLINs), peningkatan kualitas SDM dan pemberantasan tempat perindukan nyamuk.

Selain itu, dalam sektor pendidikan, pengetahuan tentang upaya pengendalian malaria sebagai materi pelajaran muatan lokal (Mulok), sektor agama, penyebar luasan materi penanggulangan malaria melalui khutbah Jum’at, kebaktian  Minggu dan materi pelajaran muatan lokal. Sektor PKK, pergerakan ibu rumah tangga dalam pencegahan gigitan nyamuk dan upaya pencarian pengobatan, sektor pertanian, dengan penanaman padi secara serentak.

Kemudian, pemberantasan malaria perlu kepedulian semua sektor, misalnya sektor Kimpraswil perlu untuk penyediaan air bersih dan MCK, program sungai bersih, mengalirkan genangan air. Sektor Peternakan, misalnya dengan penyuluhan kandang sebagai cattle barier. Sektor Pertamanan, dengan pengembangan tanaman/pohon anti gigitan nyamuk (bunga Lavender).

Sektot Pariwisata untuk menghilangkan tempat perindukan nyamuk. DPRD sebagai legislasi dan penyusunan anggaran, sektor perikanan dan kelautan dan kehutanan, membudidayakan ikan (ikan pemakan jentik) di badan air, penanaman kembali pohon bakau. Kemudian Bapeda sebagai perencana program dan penganggaran serta Bapedalda untuk pengawasan dan pengendalian lingkungan terhadap daerah endemis malaria secara berkala.

Sedangkan kasus malaria di Madina selama tahun 2008, turun sebanyak 25,6 persen. Walaupun begitu, di tahun 2009 ini tetap  dilakukan pencegahan, baik ia melalui pengobatan gratis, pembagian kelambu dan penyemprotan Untuk tahun 2009 mulai bulan Januari sampai April kita sudah melakukan beberapa kegiatan untuk mencegah perkembangan malaria dengan turun langsung kedesa-desa, misalnya bulan Februari kita ke Sinunukan begitu juga untuk bulan Maret. Sedangkan bulan April kita di kecamatan Batahan tepatnya di desa Pulo Tamang, Desa Kubangan Tompek, Desa UPT Batahan  dan II Adapun kegitan yang kita lakukan di sana berupa pengobatan gratis kepada warga, pembagian kelambu dan penyemprotan”, ujar Arifin.

”Bulan Mei lalu kita di Kecamatan Muara Batang Gadis dengan kegiatan yang sama. Kegiatan pencegahan malaria untuk tahun 2009 memang kita pokuskan di Pantai Barat tanpa ada maksud mengesampingan kecamatan lain. Ada beberapa alasan yang mendasar kenapa Pantai Barat yang menjadi prioritas kita, yaitu jauhnya Pantai Barat dari pusat kota jadi terkadang luput dari perhatian kita. Kemudian adanya permintaan masyarakat dan perkembangan malaria di daerah ini sifatnya merata”, kata Arifin.

”Sedangkan untuk pembagian kelambu tahun 2009 di prioritaskan di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Panyabungan Barat, Panyabungan Selatan, Siabu, Hutabargot dan Batahan dengan jumlah kelambu  300 perkecamatan. Pembagian kelambu gratis ini kita utamakan untuk orang miskin, ibu hamil dan balita. Memang dari jumlah penduduk tidak sebanding dengan kelambu yang dibagikan, namun baru itulah kemampuan APBD kita. Sebab untuk pemberantasan malaria ini memang butuh dana yang cukup besar, yaitu mencapai Rp. 3, 8 Milyar/tahun. Jadi berapa anggaran yang ada itulah dulu kita mamfaatkan, mudah-mudahan kedepan anggaran untuk malaria ini bertambah”, ujar Arifin. (Lokot Lubis).


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: